Search

Hipnotis Gaya Baru

0 komentar

Oleh Jayen

Ini bukan berbicara seorang Romi Rafael yang dijuluki Master Hipnotis itu. Aksi-aksinya yang menghibur dan tidak dapat dicerna oleh akal sehat selalu menghiasi televisi.

Ini juga bukan berbicara trik bagaimana agar bisa seperti Romi. Tulisan ini akan membahas hipnotis yang lain. Hipnotis gaya baru. Kita mengenal hipnotis ini dengan istilah facebook. Dan banyak orang secara tidak sadar sudah terhipnotis olehnya. Dan mungkin saja Anda salah satunya!

Ini nyata. Mengapa tidak? Ketika saya melintasi kantor-kantor Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang ada di kampus IAIN “SMH” Banten tercinta ini saya sering memergoki seseorang yang sedang bermain facebook. Begitu juga ketika saya melewati gedung Syari’ah lantai 3 yang menyediakan internet gratis buat mahasiswa, di situ pun kerap sekali para mahasiswa menggunakan fasilitas internet dan sedang membuka facebook. Dan ketika saya bersinggah ke warnet, di situ pun banyak pula orang yang sedang tersenyum tersipu asyik sendiri hingga dia tidak sadar akan sekitarnya. Apalagi penyebabnya kalau bukan terhipnotis salah satu jejaring buatan Amerika itu.

Saya pun pernah terhipnotis oleh facebook. Awalnya saya hanya berniat untuk mencari jaringan dan informasi-informasi yang ada di luar sana. Tapi tanpa disadari, banyak waktu yang terbuang. Banyak kewajiban-kewajiban yang saya tinggalkan. Sering kali saya begadang hanya untuk online. Pantas saja Majelis Ulama Indonesia atau MUI Jombang mengeluarkan fatwa tentang haramnya facebook.

Menurut rekan saya yang bernama Indra Septiana, seorang mahasiswa IAIN yang memang pengguna facebook ia menggunakan facebook lebih kepada tujuan positif, yaitu untuk bersilaturrahmi dan memperluas jaringan. Memang, facebook bisa berdampak poisitif dan negatif. Seperti dua mata pisau. Dampak positifnya kita bisa lebih mudah berkomunikasi dan menambah jaringan lebih luas (bahkan internasional). Bisa memberikan informasi kepada banyak orang di seluruh dunia. Bahkan bisa menyebarkan undangan pernikahan.

Namun banyak juga dampak negatifnya. Dampak negatif yang sedang kita perbincangkan ini yaitu orang bisa terhipnotis. Salah satunya, waktu akan banyak terbuang. Dan berlama-lamaan di monitor itu tidak baik untuk kesehatan mata. Terkait tentang masalah fatwa haramnya facebook saya kurang sepaham dengan fatwa MUI Jombang itu. Karena hal itu tergantung bagaimana tujuannya. Jika tujuannya untuk memperluas jaringan dan bersilaturrahmi, saya rasa itu boleh saja. Terkecuali penggunaannya menyalahi prosedur yang sudah ditentukan, baru itu yang tidak baik.

Facebook adalah bagian dari perkembangan teknologi informasi yang mau tidak mau akan mempengaruhi kondisi sosial masyarakat, khususnya mahasiswa dalam hal berkomunikasi. Karena teknologi bisa mempengaruhi kehidupan sosial bagi mahasiswa. Memang, kemunculan facebook bak sihir yang selalu dapat mengendalikan jiwa penggunanya untuk terus mengaksesnya. Hal ini sangat wajar, karena facebook memiliki banyak kemudahan yang disediakan untuk penggunaannya. Dalam mengakses informasi dari dunia luar dan melakukan komunikasi dunia maya dengan orang-orang di seantaro dunia.

Namun semuanya tergantung pada pengguna atau user apakah akan mengambil manfaat dari kemudahan teknologi tersebut atau sebaliknya.



Jurusan Bahasa Arab Mesti Lebih Profesional

0 komentar

Apa jadinya kalau semua tugas akhir kuliah telah selesai tapi tidak boleh mengikuti sidang munaqosah/ sidang skripsi? Tentu saja kesal. Marah. Apalagi jika kendala yang terjadi hanya karena kurangnya sosialisasi jurusan.

Inilah yang terjadi pada Muhamad Tohir, Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA), beberapa waktu lalu. Ia kesal karena Sekretaris Jurusan PBA Muizuddin menolak ia daftar sidang munaqosah. “Saya kesel nggak bisa munaqosah. Padahal kata Dekan (Encep Syarifuddin, red) saya tetap bisa daftar munaqosah sampe tanggal delapan,” ujarnya menahan marah.

Dalam pengumuman resmi yang disebarkan oleh Dekan Fakultas Tarbiyah dan Adab (Tardab), penutupan pendaftaran sidang munaqosah bagi mahasiswa Tardab memang pada tanggal 8 Oktober 2009. Dan Tohir saat itu mendaftarkan diri satu hari sebelum batas pendaftaran berakhir yakni pada 7 Oktober 2009.

Menurut Muizuddin, penolakan yang ia lakukan terhadap Tohir karena mendesaknya waktu pendaftaran. “Saya sudah memberitahukan kepada seluruh mahasiswa PBA yang mau daftar ujian munaqosah agar tidak melewati hari Senin (05/10),” ungkapnya saat SiGMA menemui di kantornya. Jurusan PBA menetapkan tanggal 5 Oktober sebagai akhir pendaftaran munaqosah, tiga hari lebih cepat dari yang ditetapkan oleh Dekan Tardab.

Muizuddin mengakui kalau batas waktu pendaftaran ujian munaqosah ini atas dasar kesepakatan seluruh staf dosen di Jurusan Bahasa Arab. “Walupun hal ini tidak kami umumkan secara tertulis, namun kami sudah memberitahukannya kepada mahasiswa PBA yang akan ujian munaqosah,” ujarnya.

Sayangnya, pemberitahuan yang diungkapkan oleh Muizuddin tidak disertai pengumuman secara tertulis. Sehingga mahasiswa tidak tahu dengan jelas kapan akhir pendafatran munaqosah secara resmi. Apalagi bagi mahasiswa yang jarang ke kampus. Yang mahasiswa tahu akhir pendaftaran adalah tanggal delapan.

Menanggapi perubahan jadwal yang dilakukan Jurusan Bahasa Arab, Dekan Tardab hanya memaklumi. “Emang benar, dari pihak rektorat membatasi waktu pendaftaran untuk ujian munaqosah hingga hari Kamis,” ungkap Encep Syarifuddin. “Namun kalau jurusan memajukan batas waktu pendaftaran, itu adalah hak mereka karena dari masing-masing jurusan ada hak otonom untuk mengatur masalah ini,” lanjutnya.

Yang disayangkan oleh mahasiswa seperti Tohir atau juga mahasiswa yang lain adalah ketidaktransparanan sistem jurusan tersebut. Dan akhirnya mahasiswa seperti mereka-lah yang mendapat getahnya.

Harapan Tohir diwisuda tahun ini hangus sudah hanya karena ketidakprofesionalan pihak jurusan dalam memberikan informasi yang benar. Untuk itu, ke depan, rasanya mesti ada kesepakatan bersama antara pihak fakultas dan jurusan dalam menentukan apa pun agar tidak ada lagi “korban”. (Luthfi-SiGMA)