Oleh Jayen
Ini bukan berbicara seorang Romi Rafael yang dijuluki Master Hipnotis itu. Aksi-aksinya yang menghibur dan tidak dapat dicerna oleh akal sehat selalu menghiasi televisi.
Ini juga bukan berbicara trik bagaimana agar bisa seperti Romi. Tulisan ini akan membahas hipnotis yang lain. Hipnotis gaya baru. Kita mengenal hipnotis ini dengan istilah facebook. Dan banyak orang secara tidak sadar sudah terhipnotis olehnya. Dan mungkin saja Anda salah satunya!
Ini nyata. Mengapa tidak? Ketika saya melintasi kantor-kantor Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang ada di kampus IAIN “SMH” Banten tercinta ini saya sering memergoki seseorang yang sedang bermain facebook. Begitu juga ketika saya melewati gedung Syari’ah lantai 3 yang menyediakan internet gratis buat mahasiswa, di situ pun kerap sekali para mahasiswa menggunakan fasilitas internet dan sedang membuka facebook. Dan ketika saya bersinggah ke warnet, di situ pun banyak pula orang yang sedang tersenyum tersipu asyik sendiri hingga dia tidak sadar akan sekitarnya. Apalagi penyebabnya kalau bukan terhipnotis salah satu jejaring buatan Amerika itu.
Saya pun pernah terhipnotis oleh facebook. Awalnya saya hanya berniat untuk mencari jaringan dan informasi-informasi yang ada di luar sana. Tapi tanpa disadari, banyak waktu yang terbuang. Banyak kewajiban-kewajiban yang saya tinggalkan. Sering kali saya begadang hanya untuk online. Pantas saja Majelis Ulama Indonesia atau MUI Jombang mengeluarkan fatwa tentang haramnya facebook.
Menurut rekan saya yang bernama Indra Septiana, seorang mahasiswa IAIN yang memang pengguna facebook ia menggunakan facebook lebih kepada tujuan positif, yaitu untuk bersilaturrahmi dan memperluas jaringan. Memang, facebook bisa berdampak poisitif dan negatif. Seperti dua mata pisau. Dampak positifnya kita bisa lebih mudah berkomunikasi dan menambah jaringan lebih luas (bahkan internasional). Bisa memberikan informasi kepada banyak orang di seluruh dunia. Bahkan bisa menyebarkan undangan pernikahan.
Namun banyak juga dampak negatifnya. Dampak negatif yang sedang kita perbincangkan ini yaitu orang bisa terhipnotis. Salah satunya, waktu akan banyak terbuang. Dan berlama-lamaan di monitor itu tidak baik untuk kesehatan mata. Terkait tentang masalah fatwa haramnya facebook saya kurang sepaham dengan fatwa MUI Jombang itu. Karena hal itu tergantung bagaimana tujuannya. Jika tujuannya untuk memperluas jaringan dan bersilaturrahmi, saya rasa itu boleh saja. Terkecuali penggunaannya menyalahi prosedur yang sudah ditentukan, baru itu yang tidak baik.
Facebook adalah bagian dari perkembangan teknologi informasi yang mau tidak mau akan mempengaruhi kondisi sosial masyarakat, khususnya mahasiswa dalam hal berkomunikasi. Karena teknologi bisa mempengaruhi kehidupan sosial bagi mahasiswa. Memang, kemunculan facebook bak sihir yang selalu dapat mengendalikan jiwa penggunanya untuk terus mengaksesnya. Hal ini sangat wajar, karena facebook memiliki banyak kemudahan yang disediakan untuk penggunaannya. Dalam mengakses informasi dari dunia luar dan melakukan komunikasi dunia maya dengan orang-orang di seantaro dunia.
Namun semuanya tergantung pada pengguna atau user apakah akan mengambil manfaat dari kemudahan teknologi tersebut atau sebaliknya.
Ini bukan berbicara seorang Romi Rafael yang dijuluki Master Hipnotis itu. Aksi-aksinya yang menghibur dan tidak dapat dicerna oleh akal sehat selalu menghiasi televisi.
Ini juga bukan berbicara trik bagaimana agar bisa seperti Romi. Tulisan ini akan membahas hipnotis yang lain. Hipnotis gaya baru. Kita mengenal hipnotis ini dengan istilah facebook. Dan banyak orang secara tidak sadar sudah terhipnotis olehnya. Dan mungkin saja Anda salah satunya!
Ini nyata. Mengapa tidak? Ketika saya melintasi kantor-kantor Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang ada di kampus IAIN “SMH” Banten tercinta ini saya sering memergoki seseorang yang sedang bermain facebook. Begitu juga ketika saya melewati gedung Syari’ah lantai 3 yang menyediakan internet gratis buat mahasiswa, di situ pun kerap sekali para mahasiswa menggunakan fasilitas internet dan sedang membuka facebook. Dan ketika saya bersinggah ke warnet, di situ pun banyak pula orang yang sedang tersenyum tersipu asyik sendiri hingga dia tidak sadar akan sekitarnya. Apalagi penyebabnya kalau bukan terhipnotis salah satu jejaring buatan Amerika itu.
Saya pun pernah terhipnotis oleh facebook. Awalnya saya hanya berniat untuk mencari jaringan dan informasi-informasi yang ada di luar sana. Tapi tanpa disadari, banyak waktu yang terbuang. Banyak kewajiban-kewajiban yang saya tinggalkan. Sering kali saya begadang hanya untuk online. Pantas saja Majelis Ulama Indonesia atau MUI Jombang mengeluarkan fatwa tentang haramnya facebook.
Menurut rekan saya yang bernama Indra Septiana, seorang mahasiswa IAIN yang memang pengguna facebook ia menggunakan facebook lebih kepada tujuan positif, yaitu untuk bersilaturrahmi dan memperluas jaringan. Memang, facebook bisa berdampak poisitif dan negatif. Seperti dua mata pisau. Dampak positifnya kita bisa lebih mudah berkomunikasi dan menambah jaringan lebih luas (bahkan internasional). Bisa memberikan informasi kepada banyak orang di seluruh dunia. Bahkan bisa menyebarkan undangan pernikahan.
Namun banyak juga dampak negatifnya. Dampak negatif yang sedang kita perbincangkan ini yaitu orang bisa terhipnotis. Salah satunya, waktu akan banyak terbuang. Dan berlama-lamaan di monitor itu tidak baik untuk kesehatan mata. Terkait tentang masalah fatwa haramnya facebook saya kurang sepaham dengan fatwa MUI Jombang itu. Karena hal itu tergantung bagaimana tujuannya. Jika tujuannya untuk memperluas jaringan dan bersilaturrahmi, saya rasa itu boleh saja. Terkecuali penggunaannya menyalahi prosedur yang sudah ditentukan, baru itu yang tidak baik.
Facebook adalah bagian dari perkembangan teknologi informasi yang mau tidak mau akan mempengaruhi kondisi sosial masyarakat, khususnya mahasiswa dalam hal berkomunikasi. Karena teknologi bisa mempengaruhi kehidupan sosial bagi mahasiswa. Memang, kemunculan facebook bak sihir yang selalu dapat mengendalikan jiwa penggunanya untuk terus mengaksesnya. Hal ini sangat wajar, karena facebook memiliki banyak kemudahan yang disediakan untuk penggunaannya. Dalam mengakses informasi dari dunia luar dan melakukan komunikasi dunia maya dengan orang-orang di seantaro dunia.
Namun semuanya tergantung pada pengguna atau user apakah akan mengambil manfaat dari kemudahan teknologi tersebut atau sebaliknya.

