Search

Cinta Nggak Kemana-Mana

0 komentar


Cinta Nggak Kemana-Mana

Oleh : Nisa*

Memahami makna cinta tidak bisa didapatkan hanya dari perkataan orang lain atau sebuah ramalan, tetapi cinta hanya akan mampu dipahami dan dirasakan sendiri. Cinta yang sebenarnya mampu menjadikan hidup kita seperti harmoni-harmoni yang indah, mengalun pelan namun mampu memberikan ketenangan. Hal itulah yang akan kita temukan ketika membaca kumpulan cerpen (kumcer) Gilalova “Cinta Nggak Kemana-mana” karya 27 cerpenis anak muda Banten.

Dalam kumcer ini, secara tidak langsung mengingatkan kita tentang jodoh. Jika memang orang yang kita cintai saat ini adalah jodoh kita, meskipun waktu sejenak memisahkan jarak kita dengan orang yang kita cintai bukan berarti kita akan kehilangan dia, akan kembali bersatu. Tapi jika memang bukan jodohnya, sekeras apapun kita mempertahankan orang yang kita cintai, suatu saat nanti akan berpisah. Seperti dalam cerpen yang berjudul Mamang Forever, penulis berusaha menggambarkan tentang kehidupan seorang mahasiswi bernama Anez. Saat Anez keluar dari stand peramal yang digelar di pelataram fakultas Untirta Cilegon, Anez bersikeras untuk menghiraukan ucapan si peramal yang mengatakan bahwa dirinya akan berjodoh dengan mamang-mamang.

Saat tiba di lobby Radar Banten, Anez bertemu dengan salah satu staf yang tanpa segan-segan langsung meminta nomor handphonenya. Tentu dengan alasan yang terdengan logis. Laki-laki itu, staf Radar Banten, kerap menghubungi Anez. Tindakan iseng laki-laki itu membuat Anez merasa terganggu. Setiap mendapat dari sang staf itu, Anez selalu menggerutu. Apalagi disaat yang tidak tepat. Mamang-mamang itu, staf Radar Banten, yang membuatnya ilfill ternyata adalah anak pemiliki stasiun TV dan pernah menjadi salah satu pengisi acara akustik kampus. Lalu siapakah sebenarnya laki-laki itu? Apakah Anez akan jatuh cinta pada mamang-mamang resepsionis (staf) atau justru akan mendapatkan brondong.

Kumcer ini mengangkat cerita-cerita biasa yang sering kita jumpai atau kita dengar dalam kehidupan nyata. Namun dengan bahasanya yang santai, kumcer ini pun dikemas dengan begitu menarik sehingga merupakan sajian bacaan yang menyenangkan untuk para remaja yang sedang jatuh cinta.


*Penulis adalah Crew SiGMA

Kukerta; Mahasiswa Dipungut Biaya

0 komentar


Kukerta; Mahasiswa Dipungut Biaya

Kuliah Kerja Nyata (KKN/Kukerta) adalah salah satu bentuk pengabdian yang dilakukan mahasiswa kepada masyarakat dengan menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang didapat pada bangku kuliah sesuai bidang keahlian masing-masing, yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi di masyarakat. Kegiatan pertama kali yang dilakukan adalah melakukan observasi, observasi ini bertujuan untuk mencari dan mengidentifikasi masalah yang ada di dalam masyarakat, serta sebagai sarana mempererat hubungan masyarakat dengan warga. Selain itu, mahasiswa dituntut mengadakan perencanaan program, baik program individu maupun program unit dan penyusunan laporan akhir dari kegiatan yang telah dilakukan selama kukerta berlangsung. Ada yang berbeda dengan pelaksanaan kukerta di kampus IAIN “SMH” Banten pada tahun ini, dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, yaitu pemberlakuan dana kukerta kepada mahasiswa yang akan mengikuti pengabdian tersebut. Tak pelak, kebijakan lembaga tersebut menuai reaksi di kalangan mahasiswa. Mereka menilai, kebijakan lembaga membebankan dana kukerta akan memberatkan mahasiswa yang hendak mengikuti kukerta. Pasalnya, pelaksanaan kukerta pada tahun sebelumnya bebas biaya. “Selain itu, selama kegiatan di sana kami harus mengeluarkan biaya dalam melaksankan program-program pengbdian,” ujar Eli, mahasiswi jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) semester VII. Menurut Eli, pemungutan biaya itu dilakukan oleh kelompok masing-masing, bukan oleh pihak Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM).

Rabu (08/12), di aula rektorat lantai III, pihak lembaga mengadakan sosialisasi kukerta. Dalam sosialisasi tersebut, pihak lembaga menjelaskan rincian alokasi dana kukerta yang terdiri dari variabel langsung dan tidak langsung dengan total Rp460 ribu per mahasiswa. Karena masih belum puas terhadap kebijakan lembaga, Selasa (14/12) atas prakarsa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), mengadakan audiensi. Dalam audiensi tersebut dihadiri oleh Ketua LPM Hidayatullah, Bagian Perencanaan Ahmad Aryadi dan beberapa perwakilan mahasiswa semester VII. Hidayatullah menuturkan, kebijakan menetapkan dana kukerta kepada mahasiswa merupakan wewenang lembaga, sedangkan pihaknya hanya menjalankan tugas pengabdian masyarakat. “Kalau mau protes, Protesnya kepada lembaga, bukan kepada LPM. Kami hanya menjalankan kegiatannya,” ujar Hidayatullah. Meski begitu, dirinya merasa perlu menjelaskan terkait kebijakan tersebut, terutama yang menyangkut alokasi dana kukerta. “Dana kukerta tidak boleh dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), karena termasuk dalam kurikulum,” katanya. Dia mengaku, dirinya pun berharap agar kukerta tidak dipungut biaya. “Mau bagaimana lagi, tidak ada pilihan lain. Kami juga berusaha menekan anggaran,” kata Hidayatullah dalam audiensinya. “Kami mohon maaf, hingga kini (14/12), kami belum menyebarkan list dana,” tambahnya.

Bidang Perencanaan Ahmad Aryadi mengungkapkan, pada tahun lalu dana kukerta berasal dari Dana Iuran Penyelenggaraan Anggaran (DIPA) yang dibantu oleh APBN, sementara untuk tahun ini, kukerta tidak diperbolehkan menggunakan dana dari APBN dan DIPA, sesuai dengan sistem yang berlaku. “Kita harus tunduk pada sistem yang berlaku. Jadi masalah ini sudah diatur dalam UU Peraturan Menteri Keuangan. Dalam hal ini, kami sama sekali tidak mengambil keuntungan, ” jelasnya. Sonhaji, salah satu mahasiswa mengaku, pemberlakuan dana kukerta harus diserahkan kepada mahasiswa karena hal itu merupakan kebutuhan mahasiswa. “Seharusnya, kebijakan yang dikeluarkan lembaga harus disesuaikan dengan kebutuhan dan persetujuan mahasiswa seperti yang dilakukan di IAIN Walisongo Semarang,” katanya saat audiensi berlangsung. Senada dengan Sonhaji, salah satu peserta menuturkan, jika kukerta merupakan kepentingan mahasiswa, seharusnya harus berdasarkan persetujuan mahasiswa dalam menetapkan keputusan anggaran. “Jika kukerta termasuk kurikulum, lalu penggunaan dana SPP dan praktikum dialokasikan ke mana?” katanya. Menanggapi pertanyaan tersebut, Hidayatullah menjelaskan, dana SPP dan praktikum tidak cukup untuk mendanai kukerta. “Justru audiensi ini bentuk penawaran kepada mahasiswa, apakah mereka setuju terhadap rencana anggaran yang kami buat atau tidak. Terus terang, kami pun berusaha meminimalisir anggaran agar tidak membebani mahasiswa,” katanya. (Junaedi—SiGMA)