Search

Urgensi Ekonomi Islam dalam Pembangunan Ekonomi

0 komentar

Oleh : Abdul Rozak Sirojuddien                             
Ekonomi sudah hadir sejak manusia mengalami kehidupan. Ketika manusia menginginkan sesuaatu kemudian berusaha untuk mendapatkannya, maka ketika itulah manusia sedang melakukan kegiatan ekonomi. Oleh karena itu ekonomi didefinisikan sebagai penggunaan sumber daya yang terbatas untuk memenuhi kebutuhan manusia yang tidak terbatas.

Sejak berabad-abad manusia dibelahan bumi dalam praktik ekonominya cenderung menerapkan sistem kapitalis. Mereka lebih mengutamakan kepentingan pribadi ketimbang kepentingan bersama. Kesejahteraan individu menjadi tujuan utama  sehingga rasa sosial tidak tumbuh. Akibatnya terjadi monopoli dan pemusatan kekayaan pada satu pihak. Bahkan bisa mendorong untuk menghalalkan segala cara untuk memperoleh segala hal yang diinginkan.

Kapitalisme nampaknya sudah mengkristal di tatanan masyarakat. Walaupun indonesia menganut sistem neoliberal (gabungan antara sosialis dan kapitalis), namun dalam prakteknya cenderung kepada sistem kapitalis yang mengutmakan keuntungan pribadi.

Ekonomi islam hadir sebagai solusi dari masalah-masalah tetsebut. Karena ekonomi islam lahir atas dasar keadilan dan kesejahteraan bersama. Dasar hukum ekonomi islam berlandaskan pada syariat islam yang sudah terrumus dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yang pemahamannya menggunakan ijma, qiyas dan ijtihad para ulama.

Dalam perbankan konvensional diterapkan sistem bunga, yang dinilai oleh syariat islam sebagai riba dan jelas haram hukumnya karena merugikan sebelah pihak. Dalam perbankan syariah, diterapkan sistem syirkah (kerja sama) yang didalamnya terdapat mudhorobah (bagi hasil). Mudhoronah lebih mengutamakan keuntungan bersama ketimbang keuntungan pribadi.

Dalam dunia usaha dinamika untung rugi memang tidak dapat dihindari. Seseorang tidak akan selamanaya untung dan juga tidak selamanya rugi. Oleh karenanya sistem mudhorobah menyesuaikan perkembangan usaha nasabah agar tidak ada kerugian pada sebelah pihak. Lain halnya dengan konvensional yang selalu memandang positif usaha nasabah sehingga mau tidak mau, untung ataupun rugi mengharuskan nasabah membayar bunga kepada bank sebagaimana yang telah ditetapkan oleh pihak bank.

Kapitalisme memang menjadi penyebab utama kesenjangan ekonomi dalam lapisan masyarakat luas. Akibatnya yang miskin semakin miskin dan yang kaya semakin kaya. Maka ekonomi islam yang menjunjung tinggi keadilan dan kepentingan bersama hadir memecahkan persoalan tersebut untuk mencapai kesejahteraan masyarakat.

Rektor: Peserta OPAK Harus Bulatkan Tekad Menimba Ilmu

0 komentar

Rektor Resmikan OPAK
LPM SiGMA - IAIN “SMH” Banten – “Kehadiran saudara-saudara di perguruan tinggi IAIN ini adalah untuk menghilangkan kebodohan dan kejumudan yang selama ini ada dalam diri saudara-saudara,” demikian dikatakan Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Maulana Hasanudin (SMH) Banten, Prop. Dr. H. E. Syibli Syarjaya, LML. M.M. saat membuka acara Orintasi pengenalan Akademik (OPAK) di lapangan Syariah kampus tertua di Banten tersebut, Senin (02/09). 

Syibli menghimbau peserta OPAK yang berjumlah 1585 untuk benar-benar membulatkan tekad menimba ilmu di IAIN agar apa yang sudah diusahakan tidak menjadi hal yang sia-sia. Di perguruan tinggi, lanjutnya, ada tiga hal yang harus diperhatikan. Pertama kedewasaan, pada saat menjadi mehahasiswa bukan lagi seperti masa disekolah oleh Karena itu mahasiswa harus meninggalkan masa kekanak-kanakan. Selain itu juga ada kamandirian dan kerja keras. “Tiga aspek itulah yang mendukung kesuksesan belajar di perguruan tinggi,” Tegasanya. 

Ketua pelaksana Raden Imam Abdillah dalam laporannya menyampaikan, mahasiswa adalah peningkatan siswa ketingkat yang lebih tinggi, untuk itulah selama menjadi mahasiswa harus menjunjung tinggi nilai-nilai literasi agar menjadi mahasiswa yang produktif dan berguna, kemudian dirinya berharap besar OPAK tahun ini  dapat membentuk mahasiswa yang dinamis dan produktif. Raden melanjutkan, dari jumlah 1612 mahasiswa baru yang terdaftar tidak semua mengikuti kegiatan tersebut. “Hanya 1585 yang terdiri dari 564 laki-laki dan 1020 perempuan,” Paparnya.

Ditempat yang sama ketua Dewan mahasiswa (DEMA) IAIN “SMH” Banten, Akbarudin  mengharapakan nila-nilai  literasi dapat dijungjung tinggi oleh mahasiswa, karena selama ini nilai-nilai tersebut saat ini telah mengalami degradasi, sangat sedikit sekali mahasiswa yang melakukan diskusi dan membaca buku, Akabar juga menghimbau mahaiswa IAIN mencintai kampusnya.“ Tidak peduli apa fakultasnya, yang jelas seberapa besar yang dilakukannya untuk Kampus IAIN,” Tegasnya. (Tisna-SiGMA)

Periode 2013, Sistem BEM Diganti DEMA

0 komentar

Saat mengadakan pertemuan dengan pimpinan-pimpinan civitas akademika di ruang rapat senat dalam pembahasan penyelenggaraan Pekan Ilmiah, Olahraga, Seni, dan Riset (PIONIR), Pembantu Rektor III bidang kemahasiswaan Suadi Sa’ad menyinggung sistem pemerintahan yang harus diterapkan dalam kepengurusan mahasiswa tahun ini, Kamis (7/2). 

Dalam rapat yang juga dihadiri oleh presiden dan wakil presiden mahasiswa terpilih tersebut, Suadi Sa‘ad menyatakan, untuk priode 2013 pemerintahan mahasiswa harus menggunakan sistem Dewan Mahasiswa (DEMA), jika tidak (tetap menggunakan sistem BEM – red) maka dana kegiatan mahasiwa untuk BEM, BEMF, HMJ, MPM dan DPM tidak akan dicairkan. “Karena hal tersebut sesuai ketentuan yang tertera dalam Surat Keputusan Dirjen tahun 2007,” ungkapnya. 

Lanjut Suadi Sa’ad, seharusnya mahasiswa menggunakan sistem tersebut (DEMA-red) sejak lima tahun yang lalu, namun mahasiswa selalu menolak dengan alasan sistem DEMA sebagai bentuk pengekangan kreatifitas mahasiswa. “Padahal tidak seperti itu, tidak ada pembatasan kreatifitas dalam sistem ini,“ ungkapnya menjelaskan kepada crew SiGMA di depan ruang kerjanya setelah rapat. Mengenai perbedaan sistem – antara BEM dan DEMA – laki-laki yang akrab disapa pak Suadi menjelaskan, yang membedakan sistem ini terletak dari penamaan strukutural dan sistem pemilihan pemimpin. 

Dalam sistem DEMA, legislatif (MPM dan DPM) diganti menjadi Senat Mahasiswa dan Eksekutif (BEM) diganti menjadi DEMA, kemudian, sistem pemilihan pemimpinnya tidak lagi melalui partai akan tetapi perwaklian himpunan jurusan. “Jadi otomatis partai politik kampus dihilangkan,” tambahnya. Akbar, Presiden Mahasiswa terpilih menyatakan ketidak setujuannya akan keputusan pihak rektorat mengenai sistem pemerintahan mahasiswa tahun ini. 

Menurutnya sistem Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) merupakan sistem yang pas untuk mahasiswa. “Karena sistem BEM sangat demokratis, berbeda dengan DEMA,” ungkapnya saat dimintai pendapat oleh crew SiGMA setelah rapat. Kamis (7/2). Lanjut Akbar, menanggapi keputusan tersebut, dia akan membicarakan hal tersebut dengan seluruh organisasi baik intra maupun ekstra. “Karena sistem DEMA akan berdampak keseluruh organ bukan hanya mahasiswa umum.” (Bayu – SiGMA)